KANALEKONOMI.ID — Setelah resmi dilantik di Mahkamah Agung pada Rabu (2/9/2026), Destry tidak membuang waktu untuk memaparkan visinya. Prinsip "3I plus S" yang ia bawa merupakan akronim dari kebijakan yang Impactful (berdampak), Inclusive (inklusif), Integrative (integratif), dan yang terakhir adalah Sinergi.
Dalam kesempatan tersebut, Destry menegaskan bahwa seluruh kebijakan BI ke depan akan berpijak pada empat pilar tersebut. "Ke depan akan terus memfokuskan kebijakan-kebijakan kami yang akan memenuhi prinsip 3I plus S paling tidak," ujarnya di Gedung MA, Jakarta.
Kerangka ini dirancang untuk menjawab tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Destry menilai, kebijakan yang baik tidak bisa berjalan sendiri dan harus mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Sinergi Pemerintah Kunci Jaga Stabilitas Rupiah
Meski memperkenalkan wajah kebijakan baru, arah kebijakan moneter jangka pendek BI dipastikan tetap konservatif. Destry menyatakan fokus utamanya adalah menjaga stabilitas, sebuah langkah yang lazim dilakukan bank sentral di tengah ketidakpastian global.
Untuk mencapai stabilitas tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi erat antara BI, pemerintah, dan lembaga terkait. "Dan semua ini akan bisa tercapai melalui sinergi Merah Putih yang akan terus menjadi pegangan bagi kami untuk menuju Indonesia maju yang makin baik," papar Destry.
Pernyataan ini memberi sinyal bahwa kebijakan BI tidak akan antipati terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Koordinasi lintas lembaga menjadi fondasi agar target pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi bisa berjalan beriringan.
Arah Konkret dalam Empat Prinsip Kebijakan
Keempat prinsip dalam jargon 3I plus S ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan kebutuhan pasar saat ini.
Prinsip impactful merujuk pada kebijakan yang efektif dan terukur, sementara inclusive memastikan stabilitas ekonomi dirasakan hingga UMKM dan masyarakat kecil. Selanjutnya, integrative menekankan sinergi antarregulator, dan semuanya berujung pada sinergi yang kuat untuk menjaga kepercayaan investor dan pasar keuangan.
Dengan pendekatan ini, pelaku pasar diharapkan melihat arah kebijakan yang lebih mudah diprediksi dan sejalan dengan program pemerintah. Fokus utama pembangunan ekonomi nasional pun diharapkan berjalan mulus tanpa gejolak eksternal yang mengganggu.
Pelantikan ini menandai babak kepemimpinan baru di bank sentral dengan janji kebijakan yang lebih kolaboratif, menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem pembayaran, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan menuju visi Indonesia maju.